Review Film Life is Beautiful (1997) Bahasa Indonesia

Sindu
By -
0

Simak review film Life is Beautiful (1997) bahasa Indonesia dalam pembahasan di bawah ini!


SinduLin.web.id - Life is Beautiful (1997) adalah film jadul yang bercerita tentang seorang ayah yang berbohong kepada anaknya. Film yang termasuk dalam 100 film terbaik sepanjang masa versi IMDb ini telah mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi, seperti 3 Oscar (Best Actor in a Leading Role, Best Music Original Dramatic Score, Best Foreign Language Film), 66 Penghargaan dan 44 Nominasi lainnya.

Review Film Life is Beautiful (1997) Bahasa Indonesia

Film Life is Beautiful dibagi dalam dua bagian cerita, yaitu saat Guido Orefice (tokoh utama) belum menikah dan sesudah menikah. Di awal film Guido digambarkan sebagai orang yang memiliki banyak ide, pandai merayu dan pantang menyerah. Celotehan dan aksi konyol Guido sangat menghibur dan mampu menarik hati Dora, yang kemudian menjadi istrinya. Mereka hidup bahagia dan mempunyai seorang anak yang lucu dan cerdas bernama Giosué.

Hingga 5 tahun kemudian, Eropa dikecam ketakutan akan Perang Dunia II, khususnya terhadap ancaman genosida yang diusung Adolf Hitler. Bayang-bayang ketakutan ini akhirnya dirasakan oleh Guido, ketika dia dan Giosué, beserta sang paman ditangkap Nazi Jerman. Dora yang sebenarnya tidak tertangkap karena teridentifikasi bukan Yahudi, memaksa ikut naik ke kereta demi bisa bersama dengan suami dan anaknya menuju kamp konsentrasi.

*Kamp konsentrasi adalah tempat di mana orang-orang Yahudi yang masih kuat dipekerjakan secara paksa. Sedangkan Yahudi tua, Yahudi kecil, dan Yahudi difabel (yang dianggap sebagai orang-orang tak bernilai) digiring untuk mengikuti ritual ‘mandi bersama’ atau pembantaian masal dalam sebuah kamar gas.*

Di tengah kengerian dan suasana yang mencekam dalam kamp konsentrasi, Guido dengan otak kreatifnya berupaya membuat Giosué tidak kehilangan keceriaannya sebagai seorang bocah. Ia menerjemahkan kepada Giosué bahwa kepergian mereka di tempat itu tak lain adalah ’liburan yang telah lama dipersiapkan’ untuk merayakan ulang tahun Giosué. Guido menerangkan kalau di dalam kamp ini, mereka tengah berada dalam sebuah permainan besar. Mereka dan para tawanan lain adalah peserta. Sedangkan ’orang-orang berseragam, bersenjata, dan berbahasa aneh’ itu adalah panitia dan pengawasnya. Peraturannya, mereka harus mengumpulkan poin hingga mencapai angka 1000 untuk menjadi juara pertama dan mendapatkan grand prize berupa sebuah tank. Beberapa tindakan harus dihindari karena dapat mengurangi poin, seperti : satu, menangis; dua, ingin bertemu ibu; dan tiga, bertanya soal makanan walaupun kamu lapar. Itulah peraturan yang diceritakan Guido untuk mengendalikan Giosué, sekaligus untuk melindunginya dari kekejaman kamp konsentrasi.


Review Life is Beautiful


Life is Beautiful benar-benar jenius dalam menggabungkan dua hal kontradiktif, yaitu komedi dan tragedi. Di awal film kita akan dibuat tersenyum bahkan terpingkal-pingkal oleh tingkah usil dan cerdik Guido, namun semakin kesini kisah film ini semakin membuat hati penontonnya trenyuh melihat perjuangan dan pengorbanan Guido yang berbohong untuk menyelamatkan anaknya. Bahkan di paruh kedua film mungkin penonton tidak lagi dapat tertawa mendengar lelucon Guido, bisa jadi malah mentikkan air mata, sebab di balik semua humor itu terdapat perasaan takut dan kerapuhan seorang ayah untuk melindungi anaknya. Bahwa di tengah kepedihan, kelelahan, dan kecemasannya, dia harus tetap tampak riang, optimis, dan bersemangat di depan anaknya.


Bukan main bingungnya Guido ketika pasukan Nazi mengirim dirinya dan Giosué ke kamp konsentrasi khusus Yahudi. Sebagai seorang ayah, apa yang harus dijelaskannya pada anaknya yang masih kecil? Giosué masih terlalu hijau untuk mengetahui bahwa dunia ini kejam, licik, berbahaya, bahkan manusia dapat menyerang satu sama lain demi kepentingan sepihak. Ia masih terlalu dini untuk mengetahui bahwa tak semua orang memiliki sifat sama seperti ayahnya yang lucu dan baik hati.


Baca juga: Drama Korea Terbaik 2018 Rating Tinggi



Dengan pahit dan sedih yang disembunyikan rapat-rapat di balik relung jiwanya, Guido akhirnya menciptakan sebuah cerita tentang permainan menarik pada Giosué, dan berkata bahwa mereka harus berjuang hingga menjadi pemenang. Kerja paksa, teriakan, kamar gas, dan tembakan menjadi ketakutan tersendiri bagi Guido, namun ia tak rela anaknya juga ikut merasakan hal demikian, maka ia selalu menghibur Giosué  dengan leluconnya dan mengajarkan Giosué untuk bersembunyi. Keselamatan anak dan istrinya selalu menjadi motivasi bagi Guido untuk tidak putus asa dan berhenti berusaha mencari cara melarikan diri dari kamp konsentrasi. Inilah jiwa sebenarnya dari film ini, yaitu menerbitkan sukacita, semangat, dan optimisme di tengah situasi yang teramat menyedihkan. Situasi di mana aroma kematian terasa begitu dekat dan menyengat.

Kelanjutan kisah Guido dan anaknya bisa kalian tonton sendiri dalam film Life is Beautiful. Film satu ini tidak hanya mengocok perut dengan leluconnya, namun juga menyentuh hati dengan cerita tragis yang dibungkus canda tawa serta mengandung pesan yang kuat dan sangat mengena. Sangat kami rekomendasikan untuk kalian tonton.

Demikian sedikit resensi kami tentang film Life is Beautiful. Jangan lupa untuk menontonnya ya!

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!