Selasa, 21 Januari 2020

Review Film Hayya: The Power of Love 2, Sekuel yang Mengecewakan


Yuk simak review Hayya: The Power of Love 2 berikut ini!


Pada artikel ini, kami akan me-review sebuah film sekuel dari The Power of Love yang sempat viral tahun lalu. Seolah tidak mau kehilangan momen, Warna Pictures selaku perusahaan produksi film tersebut kemudian membuat sekuelnya dalam film Hayya: The Power of Love 2 ini.

Review Film Hayya: The Power of Love 2
Sinopsis dan Review Hayya the Power of Love 2

Nah, berikut merupakan ulasan singkat atau review kami untuk film Hayya The Power of Love 2. Mari disimak!


Sinopsis Film Hayya The Power of Love 2


Tanggal rilis: 19 September 2019 (Indonesia)
Sutradara: Jastis Arimba
Penulis: Ali Eunoia
Produser: Erick Yusuf; Imam T. Saptono; Asma Nadia; Oki Setiana Dewi; Helvy Tiana Rosa
Serial film: The Power of Love
Perusahaan produksi: Warna Pictures

Sinopsis:
Setelah menjadi relawan di Palestina, Rahmat yang sedang berhijrah kedatangan Hayya, anak yang pernah diurusnya dulu. Melihat kondisinya yang memprihatinkan, ia berusaha mempertahankan Hayya agar tetap bersamanya, meskipun harus melanggar dua hukum negara.


Review Film Hayya: The Power of Love 2


CERITA

Rasanya 'Radikalis Romantis' memang lebih cocok, meskipun diakui akan mengundang kontroversi lebih lagi. Mengangkat tema yang sangat berani, sayangnya 'Hayya : The Power of Love 2' sayangnya tidak bisa memenuhi kebutuhan religi penonton.


Unsur religi dalam film ini benar-benar sebagai pajangan, itupun sudah sedikit dan bisa dihitung oleh hitungan jari. Mengharapkan banyak religinya, namun kosong melompong seperti kehidupan film drama lainnya.

review Hayya: The Power of Love 2
Baca review Hayya: The Power of Love 2

Drama dan komedi yang disajikan tidak ada yang bisa menembus hati penonton. Tidak bisa menyentuh bahkan cringe dalam beberapa bagian. Banyak hal yang tidak logis meramaikan kekurangan dalam film ini.

Bagaimana Hayya ada di Indonesia dan semuanya terjadi secara terburu-buru dan kebetulan. Pada intinya, semuanya datar.

Mulai dari babak pertama dimulai, menggunakan flashback yang membosankan, dialog yang sama sekali tidak ada nilainya, dan konflik berujung perilaku yang semakin membuat penonton menggeleng-gelengkan kepalanya. Lebih menyebalkan dan tidak damai seperti film terdahulunya.

Pada akhirnya, 'Hayya : The Power of Love 2' adalah sekuel yang mengecewakan dengan naratif yang sama sekali membosankan, menyebalkan, dan membuat hati merasa tidak damai kembali.


AKTING DAN PERFORMA

Film Hayya: The Power of Love memiliki Fauzi Baadila yang kembali lagi berhasil membuat penonton kesal dengan karakternya. Saya rasa karakternya memang lebih santai dan luwes dibanding film pertamanya, tetapi saja dirinya masih kaku dan gelagapan dalam memainkan karakter Rahmat ini.

Adhin Abdul Hakim diberikan ruang lebih banyak untuk bercerita, meskipun aktingnya standar, ia adalah pencair suasana dan pemancing komedi dalam tiap adegannya.


Fokus utama film ini bisa terlihat dari judulnya. Ya, Amna Shahab. Sedikit dialog menjadikan karakternya merasa menjadi pajangan dan dikesampingkan begitu saja. Ia lebih menawarkan perasaan yang mendalam sebagai korban Palestina, namun tanpa suara yang lebih, rasanya tidak bisa perasaan itu tersampaikan pada penonton.

Review Film Hayya: The Power of Love 2, Sekuel yang Mengecewakan
Review Film Hayya: The Power of Love 2

Ia menjadi satu hal yang tidak logis dalam pembawaan cerita ini. Aktingnya mungkin cukup diacungi jempol, meskipun karakternya disia-siakan saja. Ria Ricis yang akhirnya diangkat menjadi pemain, setelah sebelumnya hanya menjadi pegiat promosi, menjadi pusat perhatian yang lebih.

Karakternya yang sebenarnya menyebalkan, tapi aksen Melayunya sungguh enak didengar. Aktingnya pun sebenarnya terlalu memaksakan untuk menjadi seorang Ricis.

Karakter pendukung lainnya seperti Meyda Safira, Humaidi Abas, Hamas Syahid, dan Asma Nadia yang seharusnya menambah unsur dramatik, menjadi kurang berguna karena porsi mereka yang sedikit sekali.


TEKNIS PENDUKUNG

Tak ada perkembangan teknikal yang lebih memukau dan berinovasi lagi dari film sebelumnya.

Sinematografi Jastis Arimba yang begitu standarnya tanpa memberikan ruang cerita yang lebih menarik untuk diikuti.

Kita hanya disajikan banyak dialog dan pemandangan Palestina atau Ciamis yang sama sekali tidak bisa menumbuhkan kegairahan penonton.

Penyuntingan juga masih sama buruknya dengan film sebelumnya, hanya diminimalisir dan lebih rapi, meski masih terlihat buruk juga.

Soundtrack dan scoring semakin menambah ramai suasana dalam adegan, meskipun tak berbekas. Tata artistik pun bisa diacungi jempol karena detailnya.


Demikian ulasan review film Hayya: The Power of Love 2. Kamu sudah nonton film Hayya? Bagikan review dan rating kamu di komen bawah yaa!


Loading...

Related Posts

0 komentar: