Senin, 06 Januari 2020

Review Film Ghost Writer (2019), Kisah Horor Komedi yang Menghibur


Hari ini kami akan me-review sebuah film Indonesia terbaru yang saat ini sedang booming, yaitu Ghost Writer. Film debut arahan Bene Dion, yang merupakan mantan peserta Suci 3 ini ternyata berhasil menarik perhatian banyak menikmat film dengan paduan humor dan horor yang pas.

Review Film Ghost Writer (2019), Kisah Horor Komedi yang Menghibur

Review Ghost Writer (2019)


Nah, tidak perlu basa-basi lagi, langsung saja kita simak sinopsis dan review film Ghost Writer (2019) setelah tanda titik dua berikut:


Sinopsis Film Ghost Writer (2019)


Release date: June 4, 2019 (Indonesia)
Director: Bene Dionysius
Producer: Chand Parwez Servia
Language: Indonesian
Production company: Kharisma Starvision Plus
Nominations: Citra Award for Best Visual Effects

Sinopsis:

Sebuah buku diary tua berisi rahasia kelam yang menyayat hati. Bagi Galih, buku ini adalah sebuah pembelaan terhadap prasangka salah kedua orang tuanya. Bagi Naya, buku ini adalah materi brilian untuk novel terbarunya setelah 3 tahun kering ide. Maka sebuah kerjasama beda alam pun dimulai.


Review Film Ghost Writer (2019)


CERITA

Diawali dengan horor yang sederhana, namun tetap menakutkan membuat 'Ghost Writer' adalah film yang saya yakini bisa menghibur hingga akhir.


Sudah disuguhi dengan horor yang mencekam dan paling logis sepanjang masa serta latar belakang karakter Galih, film ini berlanjut pada unsur komedinya yang terbilang khas Ernest Prakasa, meskipun konsultan komedinya adalah Muhadkly Acho.


Acho bisa membuat komedi yang sering membuat penonton tertawa dan disajikan dengan cukup pintar tanpa unsur-unsur yang bodoh. Meskipun tidak semua bahkan sewaktu adegan Acho-Arie pun memang garing, namun tetap menambah nilai plus dalam film ini. Untungnya juga,

review ghost writer bene dion terbaru
Review Film Ghost Writer karya Bene Dion

Bene Dion bisa menyeimbangkan unsur horor dan komedinya sehingga bisa dinikmati dengan sangat baik. Drama menjadi pemanis yang pas dan penghibur paling menyentuh pada perasaan.

Drama keluarga yang dibangun memang cukup menyayat hati, padahal hanya disajikan dalam porsi yang sedikit. Drama Naya-Vino adalah unsur yang cukup mengganggu, karena memiliki gaya sinetron.

Meskipun begitu, drama ini disajikan dalam porsi yang kecil. Akhirnya, film ini pun selesai dengan meninggalkan perasaan yang menyenangkan, menyentuh, dan menyeramkan.


AKTING DAN PERFORMA

Tatjana Saphira dan Ge Pamungkas berhasil memberikan penampilan terbaik dan solid lewat karakter Naya-Galih dengan kemistri yang sangat kuat, meskipun canggung pada awalnya. Tatjana mampu menjadi karakter Naya yang sederhana dan mandiri.

Mungkin, dalam unsur drama dan horor, ia masih bisa mengendalikan aktingnya. Namun, ia cukup lemah dalam menyampaikan komedinya.

Ge Pamungkas berhasil menjadi Galih, hantu yang tidak berwibawa. Lucu dan sedih, semua bercampur dalam karakternya. Ge juga bisa membangun karakternya dengan baik dan tanpa dramatisasi yang terlihat lebay...

Endy Arfian menjadi pemeran yang cukup bersinar dengan aktingnya yang menarik perhatian, apalagi dirinya menjadi Darto yang penakut dan ditemani oleh side-kicknya, Moh. Iqbal Sulaiman yang yang sama menariknya, meskipun lebih lemah aktingnya.

Deva Mahenra bisa bermain secara baik, meskipun sempat menghilang tanpa kabar di pertengahan film. Asmara Abigail berhasil menjadi Bening yang akan menghantui dan membuat penonton merinding, meskipun pasti akan terganggu dengan pelafalan dialognya yang kaku.

Review Film Ghost Writer (2019), Kisah Horor Komedi yang Menghibur

Ulasan film Ghost Writer, film Indonesia terbaru 2019


Pemeran pendukung lainnya pun masih bisa mendukung cerita, seperti pasangan Dayu Wijanto dan Slamet Rahardjo yang menambah unsur dramanya menjadi kuat,


Arief Didu yang tampil dengan porsi kecil, dan bahkan cameo sang sutradara meskipun hanya tubuh bagian belakangnya saja bisa membuat saya senang.


TEKNIS PENDUKUNG

Teknikal film ini yang sejauh ini paling logis untuk film horor. Meskipun terlihat patah-patah dalam beberapa adegan, teknikalnya masih bisa memberikan rasa horor yang menakutkan dan cukup membekas bagi penonton.

Pengunaan scoring yang proporsional pun dapat menambah suasana di tiap adegannya secara baik. Set yang digunakan juga sangat mendukung seramnya cerita, apalagi ditambah dengan pewarnaan yang sendu seperti ceritanya.

Penyuntingan film ini masih terlihat rapi dan enak untuk dilihat. Namun, kekurangan film ini adalah transisi yang kadang terlalu cepat dan tidak jelas, sehingga membuat penonton bingung.


Itulah sedikit ulasan review film Ghost Writer (2019). Kamu sudah nonton film GhostWriter? Bagikan review dan rating kamu di komen bawah yaa!


Loading...

Related Posts

0 komentar: