Review Film Susi Susanti Love All (2019), Kisah Legenda Bulutangkis Indonesia

Pada kesempatan ini, kami akan me-review sebuah film biografi yang menarik di tahun 2019, yaitu Susi Susanti: Love All. Seperti judulnya, film garapan Sim F dkk ini mengisahkan tentang seorang atlet bulutangkis kebanggan Indonesia, yaitu Susi Susanti.

Review Film Susi Susanti Love All (2019), Kisah Legenda Bulutangkis Indonesia

Review Susi Susanti: Love All


Nah, seperti apakah kualitas filmnya? Yuk langsung saja kita simak pembahasan review film Susi Susanti Love All di bawah ini!


Sinopsis Film Susi Susanti Love All (2019)


Release date: October 24, 2019 (Indonesia)
Director: Sim F.
Screenplay: Syarika Bralini
Cinematography: Yunus Pasolang
Producers: Daniel Mananta, Reza Hidayat

Sinopsis:

Susi Susanti menjadi sensasi bulutangkis pada usia 14 tahun dan berkembang menjadi atlet paling dicintai di Indonesia.

Melalui bimbingan pelatihnya, Liang Chiu Sia, dan didorong oleh janji suci pada ayahnya, Susi mendapat pengakuan dunia dengan meraih medali emas Olimpiade pertama untuk Indonesia.

Ketika sang negeri terjungkal dalam gejolak ekonomi, Susi membuktikan pada dunia bahwa kepahlawanan tidak diukur dari tingginya prestasi, tetapi dari besarnya pengorbanan untuk tanah airnya.

Tekad dan cinta Susi kepada Tuhan, keluarga, dan pasangan hidupnya-lah yang mengukir sejarah olahraga Indonesia.


Review Film Susi Susanti Love All (2019)


CERITA

Kisah biopik terbaik yang indah dan mengesankan. Diawali dengan baik, latar belakang yang kuat dan bermakna, film ini sudah memiliki pembangunan drama yang kuat, meskipun kadang tak berasa dan berefek banyak bagi penonton.


Drama keluarga ditonjolkan pada awalnya, dilanjutkan dengan perjuangan Susi menjadi atlet badminton yang handal. Kita bisa merasakan rasa nasionalisme yang terjalin dalam film ini. Sungguh menggugah dan bergairah dalam menontonnya.

baca review film susi susanti love all
baca review susi susanti love all, film terbaru indonesia

Kegigihannya dalam mempertahankan prestasi dan pamornya cukup menegangkan. Kita penonton juga dapat menambah edukasi kita tentang bulu tangkis yang cukup tersebar sepanjang film. Hal yang paling tak stabil adalah bagaimana film Susi Susanti menjaga pembawaan cerita Susi ini.

Setelah Sudirman Cup, memang banyak yang harus dicapai, namun cara ceritanya semakin datar dan membosankan.

Untungnya, ketika ceritanya mulai turun, romansa Susi-Alan masuk dengan lembut dan manis. Romantis dan mengalun pelan-pelan. Namun, pada akhirnya, filmnya terasa dipaksakan dengan permainan Susi di Asian Games yang tidak jelas dan menghasilkan konklusi yang tanggung.


AKTING DAN PERFORMA

Akting terbaik memang jatuh pada Laura Basuki. Ia mampu menjadi Susi Susanti yang tangguh, tak kenal menyerah, dan luwes dalam menjadikan tokoh Susi ini diikuti oleh penonton.

Dialek Sunda-nya begitu kental dan halus, meskipun tak selalu stabil. Jelas ini merupakan performa terbaiknya tahun ini.


Sayangnya, karena terfokus pada Susi Susanti, film ini agak melupakan karakter yang telah mendukung film ini sejak awal.

Dion Wiyoko meskipun bisa mencuri perhatian, namun banyak plot hole yang mengurangi hidup Alan.

Karakter lainnya seperti karakter orang tua Susi, Iszur Muchtar dan Dayu Wijanto sangat menginspirasi dan kadang mengocok perut dengan komedinya yang monoton, namun menggelitik.

Karakter lainnya yang sebenarnya berpotensi, namun disia-siakan seperti Rudi Hartono ataupub Susi kecil yang lugu. Review film Susi Susanti Love All berikutnya akan membahas teknis-teknis pendukung dalam film.


TEKNIS PENDUKUNG

Tak diduga, sinematografi dari Sim F begitu cantik dalam merepresentasikan setiap kehidupan Susi Susanti di masa dulu.

Pergerakan kamera yang apik dengan tone cerita yang begitu memanjakan mata, 'Susi Susanti' memang cukup unggul dalam beberapa teknikal.

Meskipun terlalu banyak slowmotion yang mendramatisir suatu adegan, kadang mereka masih mengena dan tetap dalam zonanya.

Soundtrack lagu wajib nasional dan 90-an yang menggetarkan hati sangat enak untuk didengar.

Tata artistik dalam film Susi Susanti: Love All begitu totalitas dan membawa penonton pada zaman 90-an, khususnya dunia perbulutangkisan.


Review Film Susi Susanti Love All (2019)


Bagi Susi Susanti, ‘Love-All’ bukan sekedar istilah yang digunakan untuk menyatakan kondisi skor yang masih sama-sama kosong. Istilah itu telah menjadi ringkasan dari petualangannya selama berkarir sebagai pebulu tangkis dan berjuang memerdekakan kewarganegaraannya.

Kendati penulisan ceritanya tidak sebaik Susi saat menganalisa lawan, biografi ini tetap menawan berkat penampilan Laura Basuki dan keterlibatan sejarah besar di dalamnya.

Biografi yang tak hanya membuat kita bersorak berbahagia atas catatan prestasi yang membanggakan, tetapi juga memahami beratnya pundak Susi kala menuliskan itu untuk dirinya dan Indonesia.

Review Film Susi Susanti Love All
Review Film Susi Susanti: Love All

Susi Susanti sesungguhnya membuka cerita dengan rapi dan meyakinkan sebelum akhirnya mendorong cerita ini terlalu jauh.

Menarik sekali menyaksikan Susi belajar menjadi profesional, dan bagaimana ia mengenal cinta yang mampu mengaduk-aduk perasaan dan karirnya.

Podium di Barcelona jadi amat terasa emosional, karena cerita sebelumnya mengajak kita untuk menapaki satu per satu tangga menuju ke momen itu. Membuat Olimpiade 1992 lebih layak disebut sebagai puncak daripada batu loncatan di dalam cerita ini.


Setelah peristiwa itu, alur cerita Susi mengendur habis-habisan. Smash dari Reformasi 1998 mematikan langkah Susi, dan setelah itu gairah film Susi Susanti : Love All terasa tak lagi sama.

Intensitas laga final yang seharusnya panas dan bergelora, malah terasa hampa dan hambar untuk sebuah garis kalimat yang amat melecut semangat. Karena terlalu menyoroti prestasi, biografi ini melupakan betapa pentingnya membangun dan menuntun konflik selama bercerita.

Untung saja slogan ‘Love All’ mampu hadir sebagai benang merah atas segala masalah yang dihadirkan.

Jika Sim F dkk. mau lebih menyoroti kehidupan di sekitar Susi, di luar bulu tangkis, mungkin drama keluarga hingga politiknya akan lebih mengena di hati.

Film Susi Susanti Love All ingin menyentuh hal sensitif, tetapi tak dapat meyakinkan penonton untuk menaruh empati pada sosok legendaris yang lahir dari etnis Tionghoa.

Susi memang seorang atlit, tetapi dalam penanganan cerita ia juga membutuhkan sesuatu yang intim dalam kehidupannya.


Demikian review singkat dari film Susi Susanti: Love All, film terbaru indonesia yang sangat menarik dan sukses mengangkat kisah perjuangan legenda bulutangkis di Indonesia. Apakah kamu sudah menonton film keren ini? Berikan pendapatmu juga di kolom komentar yaa...


0 Response to "Review Film Susi Susanti Love All (2019), Kisah Legenda Bulutangkis Indonesia"

Posting Komentar