5 Hukum Retorika Menurut Pemikiran Aristoteles

Sindu
By -
0

Apa saja Lima Hukum Retorika dalam Buku Aristoteles?

Tulisan-tulisan Aristoteles menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Yunani dan membawa pengaruh besar bagi para pembicara di depan publik pada masa tersebut. 

Pada saat Romawi menguasai Yunani, pemikiran para guru dan filsuf Yunani diadopsi oleh Romawi. Salah satu yang orator Yunani yang kemudian menjadi orator Romawi yang paling terkenal adalah Cicero (106-43 SM). Ia berusaha memopulerkan retorika dengan menerjemahkan berbagai tulisan tentang retorika dalam bahasa Yunani ke bahasa Latin (yang dipakai Romawi).

5 Hukum Retorika Menurut Pemikiran Aristoteles

Cicero percaya bahwa seorang pembicara tidak hanya mempelajari materi yang akan ia bawakan tetapi juga konteks sosial kemasyarakatan dari materi tersebut. Misalnya  saja saat seorang pembicara membahas tentang puisi atau tulisan tertentu, ia tidak hanya membahas tentang puisi tulisan itu saja tapi juga pengaruh puisi/tulisan terse but bagi kehidupan budaya dan politik masyarakat. Jadi seorang pembicara harus memiliki wawasan yang luas tentang semua bidang kehidupan: budaya, politik, hukum, literatur, etika, pengobatan, bahkan matematika.

Cicero merumuskan lima hukum retorika (the five canons of rhetoric) yang ia ajarkan di sekolah miliknya. Selama berabad-abad kelima hukum tersebut menjadi landasan instruksional penyusunan retorika, bahkan sampai saat ini. Kelima hukum tersebut terdiri dari:

1. Penemuan (inventio). 

Istilah yang dipakai ini dapat membingungkan karena memiliki arti berbeda dengan kata invensi/temuan yang kita kenal dalam ilmu pengetahuan. Bagi Cicero penemuan merupakan tahap menggali topik dan merumuskan tujuan yang sesuai dengan kebutuhan publik. Tahap ini berhubungan erat dengan konsep logika (logos) dalam tiga pembuktian retorika yang telah kita bahas di atas. Dalam tahap ini pembicara merancang isi argument, mempertimbangkan pro-kontra dalam topik-topik yang ia bawakan, serta menyesuaikan argumen dengan situasi publik.

2. Pengaturan/penyusunan (dispositio). 

Kita perlu menyusun argumentasi yang sederhana. Pertama dengan menyebutkan subyek argumen kita dan kedua dengan memberikan bukti-bukti yang mendukung argumen tersebut. Aristoteles membagi strategi organisasi retorika menjadi tiga tahap: introduksi, isi, dan kesimpulan. Bagian introduksi/pendahuluan harus menarik perhatian publik, meningkatkan kredibilitas, dan menjelaskan tujuan retorika, serta hubungan antar bagian retorika. Lalu 

dilanjutkan dengan bagian isi. Isi meliputi semua argument, fakta pendukung, serta contoh-contoh untuk memperjelas argumen. Bagian kesimpulan harus mengingatkan publik apa yang telah mereka dengar dan membangkitkan emosi publik.

3. Gaya (elucutio). 

Hukum retorika yang satu ini menyangkut pemilihan bahasa yang dipakai, termasuk istilah yang dipakai serta kepantasan. berbahasa. 

Bila kita berbicara di depan remaja, kita dapat menggunakan bahasa pergaulan para remaja tersebut untuk menciptakan kedekatan dengan publik. Namun bila berhadapan dengan publik lain, kita perlu menyesuaikan pemilihan bahasa dengan publik tersebut. Aristoteles menyarankan penggunaan metafora untuk memperkuat efek pesan yang disampaikan, untuk mengajak publik membayangkan apa yang kita sampaikan. Misalnya ketika mengajak publik mengurangi pemakaian kantong plastik, kita dapat mengatakan:

"Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terurai dengan sempurna. Bayangkan bahwa tidak hanya anak dan cucu kita yang mengalami dampaknya, melainkan lima generasi kehidupan setelah kita"

4. Ingatan (memoria). 

Aristoteles berpendapat bahwa Pembicara harus hafal pesan yang disampaikannya. Hal ini tidak lagi relevan pada masa sekarang karena sering kali kita dapat menggunakan alat bantu seperti catatan atau powerpoint. Namun hukum tentang ingatan dalam retorika pada masa ini dapat mengacu pada keharusan bagi pembicara memiliki ingatan/pengetahuan tentang subyek atau materi yang disampaikan. 

5. Penyampaian (pronuntiatio) 

mengacu pada presentasi materi retorika secara nonverbal. Penyampaian menyangkut perilaku pembicara, termasuk kontak mata, mimik wajah, naik-turun nada suara, cepat- lambat berbicara, dan sebagainya. Penyampaian harus terasa alami. Bila dibuat-buat atau dimanipulasi justru pesan public speaking tidak akan meyakinkan publiknya.

Jadi walaupun yang merumuskan kelima hukum retorika di atas adalah Cicero, pengaruh Aristoteles dalam pemikiran Cicero jelas terlihat.

Cicero juga meninggalkan banyak buku dan tulisan yang berpengaruh terhadap retorika masa kini. Pada awal kariernya sebagai pengacara, Cicero lebih banyak mengembangkan pemikiran dalam bentuk surat atau naskah pidato. Ia sibuk mengejar popularitas politik, menjalin hubungan baik dengan banyak politisi berpengaruh, hingga mencapai kedudukan sebagai anggota senat. 

Pada masa itu senat tidak memiliki otoritas tinggi, hanya dapat menawarkan ide atau saran, tapi saran tersebut biasanya diikuti oleh para politisi. Namun kesuksesan politiknya ini mengalami pasang surut, bahkan diasingkan secara politik, karena perubahan penguasa, mulai Julius Caesar, Marc Anthony, hingga Octavian (yang akan lebih dikenal sebagai kaisar Agustus).

Baca juga: Definisi Public Speaking dan Elemen-Elemen dalam Komunikasi Publik

Saat ia mengalami pengasingan politik Cicero mengembangkan pemikirannya dalam bentuk buku. Sayangnya, banyak tulisan Cicero yang musnah atau tidak lengkap. Namun para ahli public speaking yang mempelajari pemikiran Cicero menemukan bahwa surat-surat dan naskah pidato yang ia tulis tidak dapat mencerminkan apa yang sungguh diyakini ataupun pemikiran orisinal Cicero. Karena ditulis dengan kepentingan politik tertentu, tulisan-tulisan tersebut banyak berisi pujian, persuasi, argumen, yang tidak selalu konsisten satu sama lain.

Kelima hukum retorika di atas terdapat dalam buku On Invention yang ditulis Cicero sewaktu masih muda. Dalam buku On the Orator, Cicero menuliskan pemikirannya tentang hubungan antara hukum, filosofi, dan retorika. Ia menempatkan retorika di atas filosofi dan hukum dengan argumentasi bahwa pembicara retorika yang baik seharusnya sudah menguasai filosofi dan hukum. 

Orator terbaik seharusnya adalah manusia terbaik yang paham akan cara hidup yang benar dan memberi tahu orang lain tentang cara hidup tersebut melalui pidato-pidatonya, contoh hidupnya, dan merancang hukum yang baik.

Dalam Brutus, Cicero membuat daftar orator-orator terkenal Yunani dan Romawi, disertai penilaiannya akan keunikan karakter mereka, serta keunggulan dan kelemahan mereka. Dalam buku tersebut Cicero menekankan bahwa orator yang baik harus "memerintah pendengar, memberi kesenangan, dan menggugah emosinya". 

Namun berlawanan dengan pemikiran sebelumnya bahwa orator yang baik seharusnya manusia terbaik, dalam buku ini Cicero juga mengatakan bahwa seorang orator harus diperbolehkan "membiaskan sejarah (misalnya berbohong) untuk memberi penekanan pada narasi mereka (Clayton dalam http://www.iep.utm.edu/cicero/). 

Masih banyak lagi buku-buku Cicero yang lain, terutama menyangkut retorika, filosofi dan hukum karena selama diasingkan secara politik ia dilarang untuk menulis tentang politik. Walau tidak semua relevan untuk masa sekarang ini, buku-buku Cicero tetap menjadi bahan studi berharga bagi kita yang mempelajari public speaking.

Tag:Apa saja jenis jenis retorika? Apa saja prinsip retorika? Apa itu segitiga retorika? Apa itu retorika menurut Plato?5 Hukum Retorika Menurut Pemikiran Aristoteles

Demikian pembahasan singkat mengenai 5 Hukum Retorika Menurut Pemikiran Aristoteles. Baca juga: Pembuktian Retorika Menurut Pemikiran Aristoteles

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!