Materi BMP Public Speaking SKOM4312 Edisi 2 – Modul 1 Bagian 1

Sindu
By -
0

Materi BMP Public Speaking Edisi 2 – Modul 1  Bagian 1


Modul 1

A. KEKUATAN PUBLIC SPEAKING

Setiap kali kita mendengar istilah public speaking kita biasanya membayangkan situasi saat seseorang berbicara di depan podium, di hadapan orang dalam jumlah banyak. Kita juga akan menganggap bahwa orang tersebut adalah pemimpin dan kita tidak mungkin dapat berada pada situasi semacam itu. Tapi bayangkan beberapa situasi berikut ini.

Pak Agus adalah seorang pegawai negeri biasa. Menjelang 17 Agustus warga di lingkungan tempat tinggalnya ingin menyelenggarakan beberapa pertandingan olahraga. Warga lalu menyelenggarakan rapat kerja di mana setiap orang, termasuk Pak Agus, dapat menyampaikan pendapat tentang olahraga mana yang ia usulkan untuk ditandingkan.

Materi BMP Public Speaking SKOM4312 Edisi 2 – Modul 1  Bagian 1
Materi BMP Public Speaking SKOM4312 Edisi 2 – Modul 1  Bagian 1

Berhubung Pak Agus sangat menyukai catur, ia menyarankan supaya catur menjadi salah satu cabang pertandingan. Alasannya, papan catur telah dimiliki beberapa warga sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli alat pertandingan dan bahwa pertandingan penyisihan dapat dilakukan setiap malam dan dapat menjadi ajang kumpul warga untuk mempererat kekerabatan. Usul tersebut diterima oleh rapat dan catur dijadikan salah satu cabang pertandingan perayaan 17 Agustus di lingkungan tersebut.

Minggu pagi di bulan Mei menjadi hari yang penting bagi Putri. Hari itu keluarga Luki, pacarnya, akan datang untuk melamarnya. Demi kelancaran acara keluarga Putri telah meminta Paman Arif menjadi juru bicara keluarga. Paman Arif akan menyambut para tamu dan memperkenalkan anggota kedua keluarga.

Situasi di atas seperti yang dialami Pak Agus dan Paman Arif memperlihatkan bahwa berbicara di depan orang banyak, di depan publik, adalah situasi yang banyak terjadi di masyarakat. Kita tidak perlu menjadi pemimpin organisasi atau menjadi ketua kelompok tertentu untuk melakukan public speaking. 

Apa pun peran kita di masyarakat: seorang mekanik, arsitek, dokter, sekretaris, konsultan komunikasi, akuntan, politikus, dosen, staf, atau ibu rumah tangga; kita perlu memiliki keterampilan public speaking (PS). Keterampilan PS diperlukan untuk menyampaikan ide, mendiskusikan sesuatu, hingga melaporkan hasil kerja pada orang-orang lain. Keterampilan itu semakin penting saat kita menduduki posisi pemimpin seperti supervisor, manajer, direktur, agar dapat memimpin rapat secara efektif, memotivasi bawahan dalam bekerja, atau bahkan berpidato di depan semua karyawan dengan sukses.


Apa itu Public Speaking? 

Public speaking adalah kemampuan berbicara di depan banyak orang, menyampaikan pesan yang dapat dimengerti dan dipercaya oleh publik pendengarnya. Public Speaking dapat memiliki peran luar biasa dalam kehidupan kita, antara lain (Hamilton, 2003: 3):

1. Mengembangkan diri pribadi

Bila kita dapat melakukan PS kita tidak perlu ketakutan setiap kali menghadapi kemungkinan diminta berbicara di depan orang banyak, baik di dunia kerja ataupun di lingkungan keluarga. Kita juga dapat menyampaikan ide kita kepada orang lain secara lebih efektif hingga memberi kepuasan bahwa ide kita diterima atau diterapkan.

Saat ini banyak perusahaan yang meminta pelamar kerja untuk membuat proposal program kerja yang akan dilakukan lalu mempresentasikannya. Ide yang telah dituangkan dalam sebuah proposal akan terdengar menarik atau tidak tergantung dari bagaimana pembicara mempresentasikannya. Dapat dipastikan pelamar yang dapat mempresentasikan idenya dengan baik yang akan diterima bekerja.

Semakin banyak kita berlatih maka semakin baik kita mempresentasikan ide di depan orang lain. Kita pun akan semakin percaya diri karena ide kita lebih sering didengar dan diterima orang.


2. Mempengaruhi dunia sekitar kita

Perubahan yang terjadi di masyarakat sering kali berawal dari ide satu orang yang ditularkan kepada orang-orang lain. Bila kita memiliki keterampilan PS maka kita akan lebih mudah dapat mempengaruhi orang-orang lain supaya menerima dan melaksanakan ide kita, yang menghasilkan perubahan kelompok tersebut. 

Dalam skala kecil perubahan tersebut dapat berupa ide menggalang warga lingkungan untuk melakukan kegiatan kebersihan bersama. Dalam skala lebih besar, perubahan dapat terjadi pada komunitas yang lebih besar. 

Beberapa komunitas di Yogyakarta, warga menentukan adanya jam belajar bagi anak. Pada jam belajar tersebut keluarga dilarang menyalakan televisi dan anak diwajibkan untuk belajar. Keluarga yang melanggar akan ditegur tetangganya sendiri sebagai bentuk kontrol sosial. Perubahan tersebut berawal dari sebuah ide yang ditularkan kepada satu komunitas, lalu menginspirasi komunitas-komunitas lain yang menganggap ide ini baik untuk mereka.


3. Meningkatkan karier

Kemampuan mempengaruhi orang lain, termasuk atasan, dapat membuat kerja kita berlangsung lebih baik. Bahkan bila rekan kerja dan atasan melihat kita terampil berbicara di orang-orang lain, mereka akan melihat kita sebagai orang yang memiliki kredibilitas tinggi hingga kesempatan promosi lebih terbuka lebar.

Pernahkah Anda melihat kompetisi pemilihan duta merek (brand ambassador) tertentu? Di tengah persaingan yang makin ketat, banyak perusahaan yang memilih duta merek sebagai bentuk PR mereka. Sang duta akan menjadi juru bicara bagi merek tersebut, dan karakter sang duta harus konsisten dengan karakter merek tersebut. 

Baca juga: Definisi Public Speaking dan Elemen-Elemen dalam Komunikasi Publik

Misalnya merek sebuah produk sabun yang memosisikan produknya sebagai sabun kecantikan yang prestisius. Merek itu lalu memilih satu orang model sekaligus  bintang film yang menjadi duta merek sabun ini. Sang duta harus terlihat elegan dan eksklusif, serta sangat cantik, sesuai citra yang mereka sabun ini. 

Dalam pemilihan duta, sudah dapat dipastikan para peserta harus melakukan public speaking; mulai dari hal yang sangat sederhana seperti memperkenalkan diri, sampai pada tahap yang lebih jauh lagi misalnya harus mempresentasikan produk maupun perusahaan secara lengkap. Di sini sudah dapat dipastikan pemenangnya adalah orang yang memiliki keterampilan PS yang tinggi.

Keterampilan PS adalah keterampilan yang memiliki kekuatan untuk mengubah dunia kita dengan cara yang sederhana, tanpa kekerasan. Memiliki keterampilan PS juga akan membuat kita lebih unggul dibanding orang-orang lain. Contoh yang sering kita lihat di media, terutama di televisi, memperlihatkan PS dalam situasi politik. 

Misalnya saat kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden atau rapat parlemen. Namun sebenarnya PS dipakai di semua bidang kehidupan, tidak hanya di bidang politik. Misalnya di bidang kesehatan saat kita berperan sebagai seorang kader Posyandu yang menjelaskan cara memantau jentik nyamuk demam berdarah, atau di bidang lingkungan hidup saat kita berperan sebagai aktivis yang mengajak para mahasiswa menggunakan kertas bolak-balik untuk menghemat penggunaan kertas. Bayangkan bila kita dapat menyampaikan pesan dengan sangat baik hingga saran kita dilaksanakan, warga akan terhindar dari demam berdarah dan jumlah pohon yang harus ditebang untuk membuat kertas dapat berkurang, maka kita telah mengubah dunia menjadi lebih baik.


B. PERSAMAAN PUBLIC SPEAKING DAN PERCAKAPAN

Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berbicara dengan orang lain dalam sehari? Sebagian besar orang menghabiskan 30% waktu di luar jam tidurnya untuk berbicara. Belajar berbicara adalah proses yang kita lalui. 

Sewaktu kita kecil, kita sering berbicara pada orang tua kita untuk meminta sesuatu. Bila tidak berhasil, kita akan belajar dari kesalahan tersebut dan mencoba berbicara dengan cara lain pada lain kesempatan. Dalam proses itu. kita jadi belajar cara berbicara dengan orang tua kita supaya maksud kita tercapai. Kita juga belajar bercakap-cakap dengan orang lain dengan cara yang sama.

Hal serupa juga berlaku untuk public speaking. Semakin sering kita mencobanya, semakin ahli kita melakukannya. Dalam banyak hal public speaking memiliki persamaan dengan percakapan biasa (Lucas, 2007: 7-8). Beberapa persamaan itu adalah:

1. Penyampaian pesan PS maupun percakapan sama-sama disusun mengikuti logika, sistematis, dan tahap demi tahap agar pesan dapat dimengerti. Misalnya saat Ibu menjelaskan cara membuat masakan pada temannya, Ibu akan memulai dengan merinci bahan-bahan yang dibutuhkan, lalu cara menyiapkan bahan tersebut, cara memasaknya, bahkan cara menyajikannya. 

Saat seorang koki menjelaskan bagaimana membuat masakan di televisi, ia juga memulai dengan merinci bahan yang dibutuhkan sampai cara menyajikan masakan tersebut. Koki tersebut melakukan PS dengan cara yang sama dengan cara ibu menyusun pesan agar dapat diikuti oleh penontonnya.

2. Menyesuaikan isi dan cara penyampaian dengan rekan bicara atau publik kita. Cara seorang dokter menjelaskan penyakit pada pasiennya tentu berbeda dengan saat ia menjelaskan hal yang sama pada rekannya sesama dokter. Begitu juga saat kita melakukan PS, kita akan memakai cara yang berbeda saat berbicara dit depan remaja SMP dan saat di depan para guru SD.

3. Pesan disampaikan dengan tujuan mendapat dampak positif dan maksimal. Misalnya saat kita menceritakan lelucon pada teman, kita akan menyesuaikan intonasi, ekspresi, susunan kata, supaya lelucon itu dipahami dan membuat teman kita tertawa. 

Saat kita melakukan PS, kita juga ingin agar publik memberikan tanggapan positif dengan menyetujui apa yang kita sampaikan atau bahkan melakukan apa yang kita sarankan. 4. Dalam percakapan ataupun dalam PS, pembicara harus dapat menyesuaikan apa yang disampaikan sesuai reaksi dari lawan bicaranya atau publik. Pembicara harus dapat mendengarkan masukan yang diberikan, dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Peka terhadap tata bahasa, ucapan, ekspresi wajah, dan reaksi fisik lawan bicara ataupun publik menyebabkan komunikasi menjadi efektif.

Baca juga: Kosmologi dan Nalar Berpikir dalam Berbudaya

Biasanya kita melakukan keempat hal di atas dalam percakapan sehari- hari tanpa berpikir lagi, melakukan dengan terampil dan mengalir begitu saja. Kita sudah terbiasa melakukannya sejak awal kita belajar berbicara. 

Terampil dalam menyampaikan pesan melalui percakapan sehari-hari memang tidak menjamin bahwa orang tersebut dapat melakukan penyampaian pesan sama baiknya kepada publik, tetap modal untuk melakukan PS telah ada. Yang perlu dilakukan adalah belajar mengasah modal tersebut hingga kita dapat terampil berkomunikasi dalam percakapan dan PS. Dengan demikian, kita akan mampu berkomunikasi efektif dalam rapat, diskusi di ruang kerja atau ruang kelas, presentasi bisnis, atau bahkan wawancara dengan jurnalis.


C. PERBEDAAN PUBLIC SPEAKING DAN PERCAKAPAN

Walau memiliki beberapa kemiripan, public speaking tidak sama dengan percakapan sehari-hari. Bayangkan bila kita menceritakan suatu pengalaman kepada seorang teman. Lalu bayangkan bila kita menceritakan pengalaman yang sama kepada sekelompok orang, sekitar 5 sampai 7 orang. Sekarang bayangkan bila kita bercerita tentang pengalaman tersebut di hadapan lebih banyak orang. mulai dari 30 hingga 100 orang. Apakah cara kita berbicara akan berbeda? Apakah reaksi kita akan berbeda?

Terdapat tiga perbedaan utama antara public speaking dengan percakapan biasa (Lucas, 2007: 9).

Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut. 1. Pesan yang disampaikan melalui public speaking lebih terstruktur. Waktu yang tersedia untuk PS biasanya terbatas dan pembicara tidak bisa diinterupsi bila ada hal yang disampaikan yang tidak dipahami oleh publik. 

Karena itu, pembicara perlu mempersiapkan segala sesuatunya agar pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh publik sesuai tujuan pembicara. Pembicara juga perlu mengantisipasi pertanyaan yang mungkin muncul dari publik serta cara menjawabnya. Itu sebabnya PS memerlukan lebih banyak perencanaan dan persiapan yang lebih rinci dibanding percakapan biasa.

2. Public speaking menggunakan tata bahasa yang lebih formal dibandingkan percakapan. Slang, bahasa gaul, jargon tidak biasa, atau tata bahasa yang buruk tidak mendapat tempat dalam PS. Setiap kalimat perlu diucapkan dengan benar, tidak menyinggung publik yang hadir, dan dapat dipahami oleh publik yang hadir. 

Apalagi, pesan yang disampaikan dalam PS tidak bisa diralat dengan begitu saja hingga kita perlu berhati-hati dalam menyampaikan pesan. Kita harus membuat publik merasa dihargai. Cara bicara dan tata bahasa pembicara mencerminkan profesionalisme dan kredibilitas pembicara.

3. Public speaking memerlukan metode penyampaian yang berbeda dari percakapan. Pada waktu kita bercakap-cakap kita dapat berbicara dengan cepat. Kita juga dapat menggunakan tanya-jawab secara langsung. seperti "betulkan?" atau "kamu tahu tidak?", dan mengharapkan jawaban pada saat itu juga. 

Bahasa tubuh kita juga santai. Dalam public speaking kita perlu menyesuaikan volume dan intonasi suara agar dapat didengar jelas oleh seluruh publik. Kita harus menggunakan postur tubuh dan bahasa tubuh yang sopan serta menghindari kebiasaan buruk yang tidak enak dilihat oleh publik seperti menggaruk-garuk wajah atau mengetuk- ketukan jari ke meja.

Karena perbedaan-perbedaan di atas, kita perlu belajar cara PS dan terus berlatih untuk dapat menjadi pembicara PS yang efektif. Keterampilan PS adalah keterampilan yang dapat dikembangkan dengan belajar dan berlatih.


D. MENGEMBANGKAN KEPERCAYAAN DIRI SAAT PUBLIC SPEAKING

Salah satu hal yang menjadi perhatian dari para pembicara adalah demam panggung. Seorang yang sangat lancar berbicara dalam percakapan sehari-hari bisa tiba-tiba menjadi ketakutan pada waktu harus berdiri dan berbicara di hadapan publik. Bila Anda merasakan hal yang sama, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian.


1. Demam panggung adalah wajar

Sewaktu masih mahasiswa saya pernah terlibat dalam sebuah kepanitiaan aktivitas sosial di kampus. Kami hendak menyelenggarakan serangkaian pelatihan bagi anak-anak muda dalam sebuah komunitas di Jakarta. Kami harus menghadiri pertemuan bulanan warga untuk meminta izin melaksanakan kegiatan di lingkungan mereka. 

Kami meminta ketua panitia mahasiswa untuk menjadi juru bicara kami dan berbicara di depan seluruh warga yang hadir. Singkat kata, warga sudah hadir, giliran juru bicara kami mengutarakan pesannya pun tiba. Tiba-tiba, tepat sebelum maju ke depan, ketua panitia berkata dengan panik: "saya tidak bisa, saya tidak sanggup." Akhirnya kami harus meminta dosen pendamping kami untuk berbicara di depan warga menggantikan ketua panitia kami.

Rasa gugup biasanya kita rasakan sebelum melakukan hal yang penting, termasuk saat kita harus melakukan public speaking. Demam panggung itu sendiri adalah perasaan yang normal. Pada waktu kita stres atau tertekan, tubuh kita merespons dengan memproduksi hormon adrenalin yang berlebihan. 

Semburan adrenalin menimbulkan reaksi yang berbeda pada diri setiap orang, dan tentunya hal ini dapat kita antisipasi dan atasi, antara lain: a. Jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Perlu kita sadari pada waktu jantung kita berdegup lebih kencang, hanya kita saja yang merasakan, sementara publik tidak melihat hal ini. Kita harus tenang dan berpikir positif dengan cara berdamai dengan diri kita melalui kata-kata positif seperti ini hanya demam panggung, tenang". 

Yakinlah dengan konsentrasi pada materi yang ingin disampaikan, degup jantung kita akan segera berdetak normal kembali.

b. Keluar keringat berlebih di bagian tubuh tertentu seperti telapak tangan, wajah, atau ketiak. Bila keringat yang berlebihan keluar di telapak tangan, kita bisa menggenggam tisu atau sapu tangan, tidak perlu menyeka tangan terlalu sering sampai terlihat oleh publik. 

Baca juga: Teologi sebagai Sumber Pemikiran dalam Bernegara dan Bermasyarakat

Bila keringat banyak keluar di wajah, misal di dahi atau sekitar hidung, kita boleh menyekanya dengan tisu atau sapu tangan sesekali tapi sebaiknya tidak terlalu sering. Semakin sering kita melakukan gerakan-gerakan menyeka keringat maka semakin terlihat oleh publik kegugupan kita. Bila kita termasuk tipe orang yang akan mengeluarkan banyak keringat di bagian ketiak saat demam panggung, sebaiknya kita mengenakan pakaian dalam agar keringat tidak terlihat di baju.

c. Tangan menjadi gemetar. Demam panggung seperti ini terlihat publik. Untuk itu, atasi dengan cara memegang kertas catatan dengan ukuran kecil atau dengan membawa catatan dengan diberi alas kertas yang cukup tebal, sehingga getarannya tidak terlalu terlihat. Tapi biasanya dengan mengalihkan konsentrasi ke materi yang ingin disampaikan, getaran tangan akan hilang dengan sendirinya setelah kita bicara beberapa saat.

d. Lutut terasa lemas hingga terasa tidak sanggup menopang tubuh untuk berdiri. Hal ini biasanya terjadi karena kita terlalu banyak duduk sebelum bicara. Atasi dengan melakukan relaksasi fisik atau berjalan dan berdiri supaya lutut kita bisa menopang tubuh dengan baik.

e. Tenggorokan terasa tercekat sehingga suara menjadi parau, atau lebih buruk lagi: suara tidak bisa keluar. Pada waktu adrenalin menyembur, salah satu efek yang bisa terasa di sebagian orang adalah produksi lendir di tenggorokan meningkat. 

Untuk mengatasi hal ini, kita dapat menjaga makanan dan khususnya minuman sebelum kita bicara. Hindari minuman yang lengket seperti susu, sirup, atau teh manis. Karena minuman sejenis ini akan membuat tenggorokan kita lengket ditambah dengan banyaknya lendir yang diproduksi oleh tubuh, maka suara kita jadi tercekat atau serak.

f. Perut terasa sakit dan seperti ingin buang air besar. Atasi dengan pola makan yang baik sebelum bicara. Dengan demikian saat perut kita terasa sakit kita tahu bahwa itu hanya akibat dari demam panggung, bukan sakit perut sesungguhnya.

g. Ingin buang air kecil secara berlebihan. Bila hal ini terjadi, tetap tenang dan segera ke belakang. Tapi bila tidak mungkin menghentikan pembicaraan, sebaiknya tahan dengan mengalihkan konsentrasi ke acara, niscaya keinginan itu menghilang. Kita bisa juga mengatasi dengan mengurangi jumlah air yang diminum. Kita bisa minum bila haus tapi jumlahnya sedikit dikurangi

h. Tidak bisa mengingat apa yang ingin disampaikan sekalipun sebelumnya sudah disiapkan. Atasi dengan membawa catatan atau menggunakan alat bantu visual seperti powerpoint. Bila catatan sudah ada di tangan, bacalah. Biasanya ini terjadi di awal-awal bicara, selanjutnya kita akan berbicara dengan lancar. 

Kesalahan yang sering terjadi, pembicara sudah mengetahui kelemahannya bahwa ia sering lupa apa yang ingin disampaikan pada waktu demam panggung melanda. Lalu ia membawa catatan kecil sebagai "contekan". Namun begitu waktunya berbicara catatan yang sudah dibawanya tadi tidak dibaca, hanya dipegang saja, sementara ia berusaha untuk merangkai kalimat dan mengingat apa yang sudah dipersiapkan sebelumnya. 

Akibatnya ia berbicara dengan tidak teratur dan tidak jelas apa yang ingin disampaikan. Sudah dapat dipastikan kata-kata pembukanya tidak menarik dan presentasi bagian isi pun menjadi tidak sesuai dengan isi yang telah disiapkannya.

Reaksi-reaksi di atas adalah contoh reaksi demam panggung yang sering kita alami sebelum melakukan public speaking.

Baca juga: Apa yang dimaksud dengan organisasi sebagai suatu sistem?

Demam panggung biasanya disebabkan rasa cemas yang muncul pada waktu public speaking. Hal yang dapat menyebabkan rasa cemas itu, antara lain:

1) Cemas topik dan informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan harapan publik.

2) Cemas tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan publik. Biasanya rasa takut ini menyerang kredibilitas diri pembicara. 3) Cemas salah dalam penyampaian. Hal ini biasanya terjadi kalau naskah/materi disiapkan oleh orang lain atau bila pembicara kurang menguasai materi yang ingin disampaikan.

4) Cemas tampil buruk sehingga mempermalukan diri sendiri. 5) Cemas peralatan audio-visual tidak berfungsi dengan sempurna mengurangi kualitas penampilan bahkan sehingga mengacaukan segalanya.

Bila kita perhatikan hal-hal yang menyebabkan rasa cemas di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ada rasa cemas yang dapat diatasi dengan persiapan yang baik dan sempurna, tapi ada juga rasa cemas yang hanya bisa diatasi dengan banyak latihan. 

Kita bahkan dapat memanfaatkan rasa cemas tersebut untuk memunculkan presentasi yang luar biasa. Biarkan kecemasan itu bekerja untuk kita. Bahkan, bila kita tidak merasa gugup sama sekali sebelum public speaking, dapat dipastikan bahwa publik akan mendengarkan presentasi yang membosankan.


2. Memanfaatkan kecemasan untuk menghasilkan presentasi yang luar biasa

Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan dalam memanfaatkan kecemasan menjadi sebuah keuntungan buat kita.

a. Berpikir positif. Bicaralah pada diri sendiri secara positif, misalnya dengan mengatakan:

"Saya pasti bisa menyampaikannya dengan baik."

"Ini adalah kesempatan bagi saya untuk menyampaikan pesan atau ide pada orang lain."

"Grogi adalah hal yang wajar, saya pasti bisa mengatasinya dengan baik."

"Saya punya topik yang menarik dan saya sudah lakukan persiapan yang sempurna, pasti publik senang mendengarkannya."

"Publik pasti akan tertarik sampaikan."

dengan apa yang akan saya

"Publik pasti orang yang menyenangkan, kalau mereka bertanya pasti mereka ingin tahu lebih jauh tentang apa yang saya sampaikan bukan untuk menyudukan atau apalagi menguji saya."

Saat muncul satu pikiran negatif di kepala kita, cari beberapa pikiran positif untuk melawannya sehingga pikiran negatif itu akan kalah. b. Lakukan persiapan yang baik. 


Persiapan Melakukan Public Speaking

Persiapan yang baik membuat kita bisa menyampaikan presentasi lebih baik. Jangan pernah hanya memiliki bahan apa adanya dan berbicara tanpa menguasai apa yang disampaikan. Kita dapat menggunakan formula 5W+1H dalam persiapan:

1) Who is my public? 

Siapa dan berapa orang publik yang akan berbicara dengan saya atau yang akan hadir? Pemahaman akan publik akan mempermudah kita dalam menyiapkan materi. Seperti yang akan dibahas dalam modul selanjutnya di buku ini, memahami publik akan menentukan gaya bahasa yang kita gunakan, cara menyampaikan pesan yang kita lakukan, contoh-contoh yang kita berikan, bahkan cara berbusana kita saat PS.

2) What is my topic about? 

Apa yang akan saya sampaikan? Tidak hanya mempelajari isi presentasi yang kita berikan, pelajari juga hal- hal yang berhubungan dengan materi untuk menambah wawasan. Pengetahuan akan banyak hal tentang topik membuat kita menjadi lebih percaya diri, membuat kita lebih yakin saat memberikan contoh atau menjawab pertanyaan publik. Kita bahkan dapat mengulang pesan dengan kalimat yang berbeda bila kita melihat tatapan bertanya atau kebingungan di wajah publik saat kita menyampaikan presentasi kita.

3) Why should I talk about it? 

Mengetahui alasan mengapa topik harus disampaikan/dibicarakan. Jangan berhenti di satu kali pertanyaan 'mengapa", usahakan gali lebih dalam alasan mengapa kita berbicara agar menemukan inti permasalahannya. Dengan demikian kita dapat lebih menjiwai apa yang hendak kita sampaikan. Kekhawatiran akan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan publik juga akan berkurang karena kita telah memikirkan kemungkinan munculnya pertanyaan tersebut. 

Baca juga: Fungsi dan Tujuan Komunikasi

Misalnya: Mengapa saya mempresentasikan produk ini? Agar konsumen mengetahui produk perusahaan. Mengapa mereka harus mengetahui produk saya? Agar konsumen mengetahui kelebihan produk perusahaan dibandingkan dengan produk pesaing. Mengapa mereka harus tahu kelebihan produk perusahaan? Agar mereka beralih ke produk yang ditawarkan. Mengapa mereka harus beralih ke produk perusahaan? Agar produk perusahaan banyak terjual dan perusahaan memperoleh laba, dan seterusnya.

4) When? 

Kapan saya bicara dan berapa banyak waktu yang saya miliki? Dengan mengetahui kapan kita bicara, kita dapat menyiapkan segala sesuatu sebelum waktunya. Selain itu, Anda punya waktu untuk latihan. Mengetahui jumlah waktu yang diberikan untuk berbicara juga penting agar kita dapat menyampaikan pesan secara efektif dalam batas waktu yang diberikan. Bila kita memiliki materi yang membutuhkan waktu 20 menit untuk presentasi padahal kita hanya memiliki 5 menit, kita berisiko akan tidak dapat memberikan pesan secara utuh dan memberikan kesimpulan yang mengesankan publik.

5) Where? Di mana saya bicara? 

Bicara di lingkungan tempat kita sudah biasa berada tentunya lebih nyaman dibandingkan dengan bicara di tempat yang baru pertama kali kita kunjungi. Ketahui di mana dan bagaimana suasana serta pengaturan ruang tempat kita bicara. Dengan mengetahui tempat terlebih dahulu, setidaknya membuat kita menjadi lebih tenang. 

Bila kita diminta berbicara di tempat yang belum kita ketahui letaknya, sebaiknya cari tahu cara menuju tempat tersebut hingga kita bisa sampai ke lokasi public speaking tepat pada waktunya. Di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, kemacetan lalu lintas sudah menjadi pemandangan sehari- hari hingga kita perlu menghitung lebih seksama waktu yang dibutuhkan menuju lokasi serta jalan tercepat menuju tempat tersebut.

6) Terakhir. How? 

Bagaimana membuat presentasi/pidato saya menarik? Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, kita dapat melakukan riset dan mengumpulkan informasi yang dapat mendukung presentasi dan pengetahuan kita tentang materi. Setelah itu, kita dapat mengatur susunan penyampaian yang menarik dan mudah dimengerti publik. 

Gunakan alat bantu visual yang diperlukan guna mendukung presentasi secara keseluruhan dan berikan contoh-contoh dan ilustrasi yang menarik membuat presentasi kita lebih mudah dimengerti. Misalnya saja, kita dapat memasukkan cuplikan film atau foto yang dapat memperkuat narasi kita akan sebuah hal. Kita juga dapat memasukkan gambar atau tabel untuk memperkuat statistik yang kita sampaikan.

3. Lakukan latihan dengan baik

Kita dapat melakukan hal di bawah ini.

a. Latih cara menyampaikan, mulai dari pembukaan untuk mencairkan suasana, isi sampai penutup. Latihan sebelum public speaking akan menghasilkan public speaking yang berkualitas.

b. Untuk hal-hal yang sulit sebaiknya dilatih dengan diucapkan, jangan hanya berlatih dalam benak. Sering kali bila kita bicara dalam hati terasa sudah lancar dan bisa, tapi pada waktu berhadapan dengan publik sering kali kita menjadi gugup dan salah mengucapkan. Untuk itu, latihanlah dengan mengucapkan kata-kata yang ingin disampaikan, terutama kata yang panjang seperti 'personifikasi' atau dalam bahasa lain seperti deliverability.

c. Latih cara menggunakan alat bantu visual yang akan digunakan, misalnya bila kita menyiapkan alat peraga, ucapkan kalimat sambil menunjukkan alat peraga atau melakukan demo.

d. Latih sesi tanya-jawab. Pelajari segala pertanyaan yang mungkin terjadi dan latihlah bagaimana menjawabnya dengan sopan.

4. Gunakan kekuatan visualisasi diri

Visualisasi erat kaitannya dengan kepercayaan diri karena seperti menciptakan kekuatan mental yang menggambarkan diri kita sendiri 'sebagaimana yang kita inginkan. Bayangkan diri kita berada di atas panggung atau di podium, menatap semua publik yang hadir, menggunakan gerak tubuh dan ekspresi yang tepat, berbicara dengan suara yang jelas. 

Rasakan kepercayaan diri kita terus bertambah dan kita dapat menyelesaikan pembicaraan dengan sangat baik. Pada waktu kita menciptakan citra diri di pikiran, usahakan realistik tetapi tetap fokus pada hal-hal yang positif. Sama seperti kita latihan secara fisik setiap kali sebelum melakukan presentasi, latihan mental ini juga harus dilakukan berulang kali.

Visualisasi bahwa ini adalah reaksi publik setelah mendengar Public Speaking kita akan membantu memberi kepercayaan diri.

5. Ketahuilah bahwa grogi tidak terlihat

Banyak pembicara cemas apa yang dirasakannya terlihat oleh publik, lalu berusaha menutupinya. Sulit sekali bagi kita untuk bicara dengan tenang dan baik bila kita merasa tidak nyaman. Jangan khawatir, orang yang sudah sering tampil di muka umum pun masih merasakan demam panggung. 

Bahkan Afgan, penyanyi muda yang sangat terkenal, mengaku bahwa ia biasa mengalami demam panggung sebelum bernyanyi di muka umum. Karena kegugupannya, ia sering menggigiti kuku-kuku jarinya. Namun kita tidak dapat melihat kegugupannya tersebut setiap kali kita menontonnya bernyanyi di muka umum.

Bila sebelum bicara kebetulan kita bersalaman dengan seseorang dan tangan kita terasa sangat dingin atau berkeringat, lalu orang tersebut menanyakan apakah kita gugup, akui saja, katakan dengan tersenyum "Ya, saya merasa demam panggung". 

Menutupi rasa demam panggung dengan berbohong hanya menambah beban dan tidak menyelesaikan masalah. Sering kali pengakuan ini akan membuat orang semakin menyukai kita, merasa simpati melihat usaha yang kita lakukan walaupun kita demam panggung.


6. Lakukan yang terbaik, bukan sempurna

Salah satu kesalahan orang pada waktu melakukan presentasi, berpidato atau berbicara adalah mereka menganggapnya sebagai suatu tampilan bukan sebagai seni dalam berkomunikasi. Sekali kita berpikir bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah seni maka dapat disampaikan dengan cara kita dan akan terdengar indah. Kesalahan kecil yang mungkin terjadi adalah manusiawi.

7. Jangan bandingkan diri dengan orang lain

Membandingkan diri dengan orang lain dan berusaha meniru gayanya. terutama orang yang sudah punya jam terbang PS tinggi, hanya akan memberi beban mental tambahan.

Selain tujuh cara di atas, beberapa cara sederhana lain yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa cemas sebelum tampil bicara di maka umum, yaitu:

1. Tidur cukup. Jumlah istirahat yang cukup akan membuat kita lebih baik. Secara fisik penampilan kita bisa lebih segar dan secara mental juga lebih kuat.

2. Ambil nafas dalam, ini bermanfaat untuk menenangkan.

3. Lakukan kontak mata dengan publik, ingat mereka adalah manusia dan

mereka datang dengan keinginan untuk mendengarkan kita, jadi mereka bukanlah datang untuk menyerang kita. Sesekali memandang mata orang yang kita kenal, yang kita tahu mendukung presentasi kita, akan memberi efek menenangkan. Bila kita merasa tidak nyaman memandang mata publik, coba fokuskan mata ke area dahi antara kedua mata.

4. Konsentrasi pada apa yang ingin kita sampaikan daripada memikirkan rasa cemas.

5. Gunakan alat bantu visual yang menarik, paling tidak hal ini dapat membuat publik beralih ke visual aids sesaat dan tidak terus menerus menatap kita.

6. Usahakan santai atau melemaskan otot sebelum tampil. Kita dapat berjalan sambil berkenalan dan bicara ringan dengan publik yang hadir duluan atau sekedar melakukan perenggangan otot dengan menggerakkan telapak kaki atau tangan. Hamilton (2003: 54) menyarankan beberapa aktivitas fisik yang bisa kita lakukan untuk relaksasi sebelum kita melakukan PS, antara lain:

visualisasi. Kita juga perlu menyadari bahwa demam panggung biasanya tidak terlihat oleh publik atau menyamakan diri dengan pembicara yang sudah ahli. Publik tidak pernah menuntut kita melakukan PS yang sempurna.

Ada beberapa aktivitas mental dan fisik yang dapat kita lakukan untuk membuat diri lebih santai sebelum PS, misalnya dengan menggunakan alat bantu visual, tidur cukup, atau melakukan gerakan- gerakan peregangan otot. Semakin sering kita berlatih public speaking dengan menggunakan setiap kesempatan yang ada, maka semakin percaya diri kita saat berbicara di muka umum.


RANGKUMAN MATERI SKOM4312 – Public Speaking (Edisi 2) MODUL 1

Public speaking adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Keterampilan ini sangat diperlukan oleh setiap orang khususnya di kalangan bisnis. Public speaking adalah kemampuan berbicara di depan banyak orang, menyampaikan pesan yang dapat dimengerti dan dipercaya oleh publik pendengarnya. Keterampilan ini memiliki kekuatan untuk mengubah dunia kita dengan cara tanpa kekerasan. Keterampilan PS kita akan semakin baik bila kita semakin sering mengasahnya.

Persamaan public speaking dengan percakapan adalah sama-sama disusun mengikuti logika, sistematis, dan tahap demi tahap agar pesan dapat dimengerti. 

Persamaan lain adalah kita perlu menyesuaikan isi dan cara penyampaian pesan kita dengan rekan bicara atau publik kita. Dalam percakapan dan PS, pesan disampaikan dengan tujuan mendapatkan dampak positif dan maksimal, serta pembicara harus dapat menyesuaikan apa yang disampaikan dengan reaksi dari lawan bicara atau publiknya.

Perbedaan utama antara percakapan dengan public speaking, yaitu pesan yang disampaikan melalui public speaking lebih terstruktur, pubile speaking menggunakan tata bahasa yang lebih formal dibandingkan percakapan dan pubile speaking, serta memerlukan metode yang berbeda dalam penyampaian dengan sikap tubuh yang lebih sopan supaya enak dilihat oleh publik.

Banyak orang yang merasa cemas pada waktu bicara di muka umum atau dikenal dengan istilah demam panggung. Perlu disadari demam panggung adalah hal yang wajar dan bisa diatasi. Demam panggung memang dapat memunculkan reaksi fisik, namun kita dapat menggunakan rasa cemas ini untuk memunculkan presentasi yang luar biasa. Misalnya dengan berpikir positif, mempersiapkan diri dengan formula 5W+1H, berlatih sebelumnya, dan menggunakan kekuatan 

visualisasi. Kita juga perlu menyadari bahwa demam panggung biasanya tidak terlihat oleh publik atau menyamakan diri dengan pembicara yang sudah ahli. Publik tidak pernah menuntut kita melakukan PS yang sempurna.

Ada beberapa aktivitas mental dan fisik yang dapat kita lakukan untuk membuat diri lebih santai sebelum PS, misalnya dengan menggunakan alat bantu visual, tidur cukup, atau melakukan gerakan- gerakan peregangan otot. Semakin sering kita berlatih public speaking dengan menggunakan setiap kesempatan yang ada, maka semakin percaya diri kita saat berbicara di muka umum.


Demikian pembahasan singkat MATERI SKOM4312 – Public Speaking (Edisi 2) MODUL 1 dari Universitas Terbuka. Baca juga:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!