Sabtu, 18 Januari 2020

Review Film Surat dari Kematian (2020), Satu Lagi Film Horor yang Berantakan


Yuk simak review Surat dari Kematian berikut ini!


Review Film Surat dari Kematian (2020), Satu Lagi Film Horor yang Berantakan
Baca review Surat dari Kematian

Setelah sebelumnya kami me-review film Kain Kafan Hitam, pada kesempatan kali ini kami akan me-review film horor terbaru Indonesia lainnya, yaitu Surat dari Kematian. Seperti apa kira-kira kualitas filmnya? Langsung saja disimak pembahasannya di bawah ini!


Review Film Surat dari Kematian (2020)


CERITA

Film Surat dari Kematian diadaptasi dari novel Wattpad ternama, 'Surat dari Kematian' dikembangkan menjadi horor tipikal dari Indonesia.


Disisipi unsur misteri pun tak bisa membuat film ini berkelas dan menarik untuk ditonton. Ketika horornya saja menjadi ciri yang tak menakutkan, misterinya tak bisa mendukung cerita horornya lagi.

Baca review Surat dari Kematian
Baca review film Surat dari Kematian

Clueless dan muncul secara tiba-tiba dalam solusinya. Alurnya klise dan mudah ditebak. Ketika ada seorang indigo yang membantu pemecahan suatu kasus, lalu mengalami banyak kejadian aneh. Romansa persahabatan Kinar-Zein pun terasa gombal dan sajian pemanis yang seharusnya dikembangkan lebih lagi.

Semua aspek cerita hanyalah parade jumpscares dengan dialog berlebihan yang kadang tak berguna.

Naskah Evelyn Afnilia tak bisa membangun ceritanya dengan baik, malahan membuat tokohnya menjadi tak berjalan dengan baik. Twist-nya masih tipikal film misteri, memanfaatkan satu tokoh yang sama dimana-mana. Tak terlalu mendukung akhirnya yang meninggalkan ending yang menjurus pada kelanjutan film ini dalam kasus yang berbeda.


AKTING DAN PERFORMA

Carissa Perusset dan Endy Arfian yang hanya bisa mencuri perhatian penonton lewat akting mereka yang cukup menjiwai, walaupun naskahnya tak mendukung mereka untuk menjadi karakter yang lebih berkembang.

Carissa Perusset bisa menjadi Kinar yang kadang salah ekspresi, namun dalam horor ini, karakternya dibuat terlalu bodoh. Logat Carissa pun masih kurang jelas dalam berbahasa Indonesia.


Endy Arfian kadang terlalu kaku dalam beberapa adegan, apalagi dengan naskahnya yang baku, membuat film ini kurang enak untuk dinikmati.

Pemeran pendukung lainnya pun bisa mendukung ceritanya dengan baik, walau perkembangan karakternya tak pernah mulus.

Jerome Kurnia yang menjadi tokoh Darius tak begitu menyeramkan, trio Omara Esteghlal, Justin Adiwinata, dan Eric Febrian juga menjadi tokoh yang tak mendapat perhatian lebih, namun potensial untuk membangun karakter mereka.

Dannia Salsabila menarik perhatian dengan paras cantiknya, walaupun screentime-nya hanya cukup menjadi pajangan. Review Surat dari Kematian selanjutnya akan membahas teknis-teknis pendukung dalam film.


TEKNIS PENDUKUNG

Hestu Saputra kembali dengan horornya yang tipikal dengan dirinya. Kemasannya begitu unik, tak menjadikan sinematiknya begitu memuaskan.

Ulasan review film horor Surat dari Kematian

Sinematografinya begitu berantakan dan sama sekali mengganggu. Tata kamera yang semakin mengacak-acak cerita dengan transisi antar adegan yang terlalu cepat, monoton, dan tidak memperhatikan kontinuitas suasana tiap adegannya.

Scoring-nya tetap tipikal khas film horor Indonesia, masih berisik dan tak tahu tempat. Penyuntingan juga masih belum menyesuaikan dengan hantunya, walau tata rias dan busananya sudah bisa relevan dengan hantunya.


Itu dia ulasan review film Surat dari Kematian, film horor Indonesia yang lagi-lagi berantakan dan sebenarnya jauh dari kata layak untuk disiarkan di bioskop. Kamu sudah nonton film Surat dari Kematian? Bagikan review dan rating kamu di komen bawah yaa!


Loading...

Related Posts

0 komentar: